Rabu, 31 Desember 2025

Review Buku Platina Data dari Keigo Higashino

Buku Keigo Higashino yang berjudul Platina Data


      Setelah sekian lama nggak nulis review buku lagi karena emang reading slump+writing slump+sibuk parah, akhirnya aku nulis lagi di sini. Huhuhu.

     Di tulisan ini aku mau nulis isi pikiranku setelah baca Platina Data dari Keigo Higashino, yang ternyata jadi salah satu buku terbaik Keigo versiku. Bingung mau nulis dari mana, soalnya ada banyak hal yang pengen aku sampaiin di sini, mulai dari penokohan yang unik, alur yang tak terduga, ilmu terkait suatu bidang khususnya cyber security, sama tentang pesan yang ingin disampaikan Keigo lewat buku ini.

Isi Buku:

     Buku ini diawali pembunuhan seorang perempuan di sebuah hotel, di mana di situ ditemukan rambut yang diduga milik tersangka. Sebagai seorang polisi yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini, Asama diminta untuk membawa sampel rambut ini ke suatu "badan milik negara", untuk dilakukan uji data DNA rambut tersebut. Yang menarik perhatian di sini adalah, ternyata dari sebuah sampel rambut, "badan milik negara ini" bisa langsung melakukan visualisasi pemilik rambut secara langsung. Semisal, tinggi badan sekian cm, jenis rambut, dan membuat montase muka yang mirip dengan fotonya. Terlihat menakjubkan, kan?

     Kagura Ryuhei, adalah salah satu pengembang sistem DNA tersebut. Dia berambisi untuk mengumpulkan DNA seluruh warga Jepang, agar negara tersebut minim kriminal. Di pikirannya, ketika DNA mereka telah terdaftar di sistem, maka warga akan berpikir ulang untuk melakukan kejahatan. Hingga akhirnya, muncul suatu kasus yang sulit diselesaikan: sampel DNA yang ditinggalkan pelaku di lokasi kejadian menunjukkan: Not Found 13 (NF 13), alias tidak terdaftar di sistem DNA manapun.

     Di tengah kebingungan Kagura terkait kasus ini, "otak asli dari pengembang sistem" ditemukan tewas tertembak. Parahnya lagi, tewasnya orang ini menjadikan Kagura sebagai buronan polisi dengan musuh yang sama sekali tidak dia duga.


Opini terhadap buku:

     Baca ini perasaan super campur aduk: penasaran, kesel, sedih dan lega di beberapa bagian. Tapi yang jelas, buku ini bagus banget, aku bingung mulai dari mana bahasnya. Jadi, aku mau coba jabarin satu per satu alasanku menyukai buku ini.

Penokohan yang unik

     Sebenarnya ini mini spoiler terkait karakter tokoh, tapi menurutku ini malah jadi nilai jual. Jadi di sini diceritakan bahwa Kagura Ryuhei ternyata memiliki kepribadian ganda atau Alter Ego. Buat yang pernah nonton Kuroko no Basuke, pasti nggak asing dengan karakter Akashi Seijuuro. Dan menurutku, penjabaran alter ego-nya Kagura lebih matang dan mendetail.

     Nah Kagura dengan "dia" (kepribadiannya yang lain) punya kepribadian yang sangat bertolak belakang. Di mana Kagura orangnya sangat logis, segalanya harus punya data dan alasan yang kuat, sementara "dia" adalah sosok yang bebas dan "naif". Mereka sendiri kalau berinteraksi biasanya lewat surat. Jadi untuk berubah ke kepribadiannya yang lain, Kagura perlu suatu obat. Sehingga sebelum minum obat, biasanya dia menulis surat. Tentu saja di sini dia diawasi oleh Profesor Minakami, yang menjadi psikiater Kagura.

     Saat baca bagian ini, aku seperti baca bukunya Carl Jung, soalnya riset Keigo terkait psikoanalisa tuh cukup mendalam. Bahkan secara tidak langsung ditunjukkan mengapa kepribadian Kagura yang lain ini bisa muncul. Kurang lebih mirip Akashi ya untuk asal mulanya, di mana alter ego ini muncul ketika dia mengalami perasaan terguncang yang hebat. Kalau yang aku tangkap sih, dari suatu trauma yang menimbulkan banyak ketakutan, akan menutupi "diri kita yang lain".

    Dengan penokohan yang unik inilah, aku jadi penasaran dengan kelanjutan interaksi Kagura dan "dia". Di mana ini jadi salah satu poin yang bikin aku engaged dengan buku ini.

Alur yang tidak terduga

     Yahh, seperti biasa. Keigo emang jago bikin plot twist berlapis. Di setiap bab, aku kayak disuguhkan fakta baru yang bikin hah hoh. Lumayan bikin deg-degan, siapa lagi ya korbannya? Walaupun buku ini lebih fokus ke pengembangan karakter Kagura, tapi tetap aja alurnya ini seru banget untuk dinikmati. Apalagi pas bagian Kagura dikejar-kejar polisi, berasa ikutan kabur-kaburan juga.

Satire ke pemerintah

     Buku ini nggak jauh-jauh dari keamanan data warga dan "policy" yang dibuat pemerintah. Di mana sebagai warga biasa, kita dipaksa untuk menyerahkan data-data pribadi bahkan dipaksa dengan sebuah regulasi. Sementara petinggi malah diberikan kebebasan untuk "dilindungi datanya".

     Belum lagi tentang gimana RUU yang sering disahkan diam-diam, padahal banyak publik yang menolaknya. Kurang lebih seperti itulah isi buku ini.

Pesan yang ingin disampaikan Keigo di buku ini:

     Untuk pesan sih sebenarnya personal ya, tapi kalau menurut pendapatku, salah satu yang menonjol di sini adalah tentang minat dan perasaan. Banyak orang yang mengesampingkan perasaan karena takut nggak bisa berpikir jernih. Takut mengembangkan minat, karena merasa buang-buang waktu. Di sini, Kagura yang digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan sistematis, ternyata di alam bawah sadarnya dia mendambakan kehidupan yang bebas, di mana dia bisa berkarya dengan kedua tangannya untuk menghasilkan karya seni. Dia yang terlihat tidak tertarik dengan perempuan manapun, ternyata di alam bawah sadarnya dia mencintai seseorang tanpa memandang rupa. Memang sih, dalam hidup ini kita harus logis dan sistematis, tapi jangan sampai surpress our feeling karena ujungnya itu akan menyakiti jiwa kita.

     Selain tentang perasaan dan minat, ada lagi pelajaran tentang gimana realita di pemerintahan. Memang sih, kita pasti nggak bisa nerima ya ketika pemerintah melakukan sesuatu yang nggak adil atau mengeluarkan policy yang aneh. Tapi, semisal kita nggak punya power yang cukup dan maju sendirian, ya pasti susah, mau seidealis apapun, kemungkinan besar pasti kalah. Faktanya hierarki kekuasaan itu akan selalu ada. Beda lagi dengan people power, mungkin ada kemungkinan untuk menang, tapi kalau pemerintah ujungnya memainkan suatu regulasi? Ya uneg-uneg kita dianggap angin lalu. Sebagaimana dalam novel ini, ketika masyarakat Jepang menolak RUU terkait kewajiban warga untuk setor DNA, pada ujungnya pemerintah akan mencari cara supaya RUU tetap sah. "Pemerintah akan merampungkan urusannya dengan oposisi", kurang lebih seperti itu yang terjadi di buku ini. Dan pada akhirnya, penggunaan DNA ini malah menunjukkan hierarki kekuasaan yang sesungguhnya.

     Untuk ending-nya, aku terharu dan campur aduk. Setelah semua ini, Kagura benar-benar mengalami perkembangan karakter.

     Meskipun buku ini salah satu buku terbaik dari Keigo versiku, bukan berarti isinya sempurna. Tetap ada kekurangannya, hanya saja kekurangannya tidak mengurangi penilaianku bahwa buku ini salah satu buku terbaik karyanya. Misalnya, ada bagian cerita yang sebenarnya kurang perlu dijelaskan karena tidak mendukung alur maupun pemecahan isu. Atau misal, penjabaran tentang sistem pelacakan DNA ini menurutku kurang mendalam ya, beberapa kayak "yaudah gitu". Tapi aku paham, kalau semisal dijabarkan terlalu detail jatuhnya malah terkesan "berat".

     Sekian ulasan Buku Platina Data dari Keigo Higashino dariku! Terima kasih buat yang udah baca review ini.


Senin, 22 Desember 2025

Selamat Hari Ibu!

      Selamat Hari Ibu!

Untuk doa-doanya di sepertiga malam yang tak pernah terputus,

Untuk segala tirakat yang dilakukan demi kesuksesan anak-anaknya,

Yang selalu percaya bahwa anaknya akan bangkit di waktu terpuruk,

Yang selalu kompromi dengan segala jenis sifat anak-anaknya,

Untuk segala pengorbanan yang tidak terhingga,

Tempat ternyaman saat badai menghadang,

Dan sumber terbesar doa yang hingga saat ini telah membawaku jauh melangkah,


Selamat Hari Ibu! Semoga panjang umur, sehat selalu dan senantiasa diberkahi Allah SWT. Aamiin.

Jumat, 12 Desember 2025

Perpustakaan Kantor

      Salah satu hobiku adalah baca buku, dan kita tau sendiri lah yaa, in this economy, di mana gaji segitu-gitu aja, tapi harga buku terus meningkat. Mau beli buku pun mikir-mikir juga, kalau bukan yang suka bangett ya mending skip dulu buat nggak beli.

     Terus kan ya, perpustakaan di Indonesia tuh nggak banyak, apalagi di daerah yang bukan kota besar. Bahkan, di kota besar semacam Jakarta pun, beberapa perpustakaan yang pernah aku kunjungi, tidak semuanya punya koleksi yang update. Entah karena ada masalah anggaran untuk pengadaan mereka, atau emang pustakawannya bukan yang ngikutin perkembangan buku (judging bgt). TAPI, aku bersyukur bgt karena perpustakaan kantorku termasuk yang koleksinya update.

     Jarang-jarang ya, ada kantor yang punya perpustakaan. Makanya, aku bersyukur bgt ditempatkan di kantor yang punya perpustakaan cozy dengan koleksi yang selalu diperbarui. Ada banyak buku yang aku baru bisa baca, pas pinjam di perpustakaan kantor. Bahkan, kalau aku usul buku, beberapa sering disetujui. Jadi form usulan buku bukan formalitas aja, tapi emang beneran dijadiin referensi buat pengadaan buku ke depannya.

     Kadang mikir, Allah tuh memang sebaik-baiknya perencana. Meskipun gajiku bukan yang gede bgt (tapi masih bersyukur), tapi setidaknya aku masih bisa menikmati hobiku karena kantor menyediakan buku-buku untuk kubaca di perpustakaannya. Dan, untuk pegawai kantor tentu saja boleh pinjam untuk dibawa pulang.

     Sekian dan terima kasih, cuma pengen cerita aja soalnya udah lama nggak nulis di blog ini. HEHEHE.

Senin, 16 Juni 2025

Si Tampan dan Jagoan, Kucingku Jonan




      Akhirnya tiba juga saat ini, di mana Jonan akan melanjutkan petualangannya lebih jauh, dan tidur siangnya tidak akan terganggu.

     Jonan, salah satu kucing dari trio oren, yang ditemukan di sawah saat jalan pagi. Saat itu mereka masih kecil, bahkan matanya belum terbuka sempurna. Di tengah kesedihan karena Zul, Tito, Mae meninggal, sebulan kemudian datanglah trio oren, yang kemudian mengisi hari-hari selama beberapa bulan ini.

     Sejak kecil, Jonan adalah kucing yang paling gesit dan kuat. Paling sehat, karena makannya gak pilih-pilih seperti Waras, saudaranya. Tapi tetap, dia paling suka kalau aku beri ayam rebus atau makanan basah rasa tuna. Alhasil, badan dia paling besar dibanding 2 saudara lainnya, karena dia suka makan apapun.

Senin, 31 Maret 2025

Selamat Idulfitri 1446 H!

      Alhamdulillah, kita bisa menyambut hari kemenangan dengan suka cita. Setelah 30 hari berpuasa, shalat tarawih, tadarus dan membayar zakat, kita bisa menyambut hari ini dengan kebahagiaan sebagai umat muslim.

     Selamat Idulfitri 1446 H semua! Semoga kita dipertemukan dengan Idulfitri tahun depan bersama keluarga yang utuh. Aamiin.

Kamis, 27 Maret 2025

Catatan Baca: Slow Productivity dari Cal Newport



     Quality over quantity

     Dengan adanya tren hustle culture, banyak dari kita yang terjebak untuk melakukan pekerjaan banyak, agar terlihat produktif. Dampaknya, kualitas kerjaan yang dihasilkan pun jadi kurang maksimal, mengingat fokus yang diberikan terpecah belah di waktu yang singkat.

     Karena aku termasuk orang yang terjebak di fenomena itu, beberapa waktu lalu aku tertarik buat baca buku Slow Productivity dari Cal Newport. Adapun beberapa poin menarik yang pengen aku bagi di sini di antaranya:

Selasa, 25 Maret 2025

Review Buku: The Cat Who Saved The Library dari Sosuke Natsukawa

      Ngomongin selera buku, kayaknya sebagian besar buku yang kubaca dan review di sini adalah Sastra Jepang. Termasuk buku yang aku review kali ini.

     Setelah sukses dengan buku sebelumnya yang berjudul The Cat Who Saved The Books, Sosuke Natsukawa kembali nerbitin buku yang merupakan sekuel dari buku sebelumnya, yang berjudul The Cat Who Saved The Library. Ngomong-ngomong, aku baca ini dari ARC Netgalley. Dan buku ini bakal terbit 10 April 2025 nanti.


Senin, 17 Maret 2025

Review Buku: The Healing Season of Pottery dari Yeon Somin



      Pernah nggak sih, kamu berada di situasi yang capek buat ngapa-ngapain, tapi pas lagi nggak ngapa-ngapain ya capek juga? Inilah yang dialami Jungmin, seorang penulis broadcast yang mengalami  burnout, lalu memutuskan resign.

     Dikira, setelah nggak ngapa-ngapain Jungmin bakal sembuh. Tapi ternyata, dia malah makin stres. Udah nggak ada pemasukan lagi, nggak punya rutinitas yang jelas, dan hidup sendirian di desa pula. Alhasil, setelah setahun nganggur dia akhirnya memutuskan untuk nyari inspirasi dengan jalan-jalan di lingkungan desa. Di tengah perjalanan itu, dia niatnya mampir di sebuah kafe. Eh pas masuk, ternyata itu bukan kafe biasa, melainkan tempat workshop pottery.

Rabu, 12 Maret 2025

Review Buku: Masquerade Hotel dari Keigo Higashino


      Sering banget kan kita denger kabar kalau polisi tuh suka nyamar buat nangkapin targetnya? Begitu pula yang terjadi di buku Masquerade Hotel dari Keigo Higashino. Jadi, telah terjadi pembunuhan berantai yang di tiap lokasi kejadian meninggalkan kode khusus. Di mana kode khusus ini selanjutnya akan menunjukkan di mana lokasi pembunuhan selanjutnya. Nah, di pembunuhan ketiga, kode tersebut menunjukkan bahwa lokasi pembunuhan selanjutnya adalah di Hotel Cortesia Tokyo.

Sabtu, 01 Maret 2025

Menyambut Ramadhan 1446 Hijriyah

      Udah lama banget nggak nulis di blog ini karena ada fokus lain yang butuh perhatian lebih selama beberapa bulan ini. Dan sempet slump banget, bingung mau nulis apa karena emang lama nggak punya inspirasi sama sekali (termasuk bacaan pun lagi slump banget). Tapi karena sadar kalau aku terusan gini otak bakalan macet, alhasil aku maksain buat nulis apapun yang ada di kepalaku saat ini, yaitu tentang Ramadhan. Hehehe.

     Tanggal 1 Ramadhan tahun ini tepat banget jatuh pada 1 Maret, jadi sepanjang Maret ini bakal jadi spesial banget karena secara tahun Masehi, aku lahir di bulan Maret :D.

     Ramadhan tahun ini aku beli jurnal islami gitu, mau nyoba tracking ibadah selama bulan Ramadhan ini bisa konsisten nggak. Terus kira-kira target Ramadhan tahun ini tercapai atau enggak. Biasanya nggak pakai jurnal-jurnal gitu sih, cuma karena kebetulan ada format jurnal yang sesuai selera, akhirnya aku beli deh.

     Udah sih, itu dulu aja nulisnya. Semoga tulisan pertama tahun ini bisa membawa semangat tulisan-tulisan ke depannya. Selamat menyambut bulan Ramadhan 1446 Hijriyah! Semoga Ramadhan tahun ini memberikan kita banyak berkah, dan disucikan kembali dari dosa-dosa. Aamiin.

Minggu, 29 September 2024

Catatan Baca: Hidden Potential dari Adam Grant


      Buku Adam Grant tuh hampir semuanya selalu ngasih insight baru buat lebih rajin lagi memperbaiki diri. Soalnya, di setiap buku yang dia tulis selalu berusaha "meluruskan" bias manusia, yang sering bikin orang susah maju. Misalnya di buku Think Again, di situ dia berkali-kali menekankan para ahli untuk memisahkan identitas dengan opininya, supaya nggak merasa benar ketika dikritik, dan mau berpikir ulang dari perspektif lain. Begitu pula dengan buku terbarunya Hidden Potential ini. 

     Ngomongin potensial, kita sering menjumpai orang yang menganggap bahwa tolak ukur potensi seseorang itu dari seberapa cepat dia mendapatkan prestasi. Padahal balik lagi ke latar belakang tiap orang, seperti: apa aja tantangan yang dihadapi? bagaimana kesempatan dan peluang yang dimiliki?dan lain sebagainya. Dengan kata lain, garis start tiap orang nggak sama. Oleh karena itu, jika kita terlalu fokus ke prestasi seseorang yang sudah terlihat, yaa orang yang berpotensi lainnya bakal tenggelam.

     Buku Hidden Potential ini bukan ngajak kita untuk berambisi besar sehingga bisa berprestasi cemerlang, tapi fokusnya ke proses nemuin potensi diri serta gimana kita bisa nikmati fase belajar itu. Secara garis besar, di buku ini Adam Grant membahas tentang:

1. Pentingnya karakter dalam self-improvement,

2.Pentingnya strategi biar tetap termotivasi,

3. Membangun Sistem yang memperluas peluang bertumbuh.

     Ngomongin yang pertama dulu, yakni karakter. Sebelumnya, kita perlu memberi batas definisi dari sifat dan karakter. Sebab keduanya berbeda. Sifat sendiri adalah sesuatu yang kita tunjukkan sehari-hari, sementara karakter adalah sesuatu yang kita gunakan untuk mempertahankan prinsip kita. Dengan kata lain, ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang sulit, di sinilah karakter itu muncul.

     Karakter dalam proses pembelajaran penting banget, soalnya berkaitan dengan tantangan yang muncul saat belajar. Misalnya:

a. Gimana kita bisa tetep nyaman di situasi yang nggak nyaman?

b. Gimana kita mau mengakui kelemahan yang dimiliki?

c. Gimana kita bisa berani berbuat kesalahan tanpa takut di-judge?

Karena tau sendiri lah, yang namanya belajar itu nggak ada yang gampang. Tantangan seperti di atas bakal sering muncul sebagai tanda untuk bertumbuh. Masalahnya, apakah kita mau menerima tantangan tersebut dengan berani? Atau masih tetep ngasih makan ego dengan nggak mau ngakuin kelemahan?

     Karakter ini nanti juga berkaitan dengan manajemen emosi saat belajar. Gimana kita masih tetap disiplin di tengah mood yang awur-awuran? Contohnya aja prokrastinasi. Banyak orang yang melakukan prokrastinasi karena merasa "tertantang" ketika memasuki waktu akhir deadline. Sebenarnya nggak masalah kalau hasilnya bisa maksimal, kalau sebaliknya gimana?

     Dalam proses pembelajaran sendiri, kita dituntut untuk disiplin biar hasilnya maksimal. Karena dengan disiplin, otak kita bisa menerima informasi dengan teratur secara berkala. Sementara kalau pakai sistem kebut semalam, otak akan kelelahan karena harus menerima informasi banyak di waktu yang cepat.

     Jujur aja sih, aku sendiri bukan golongan yang disiplin. Oleh karena itu, ketika aku baca buku ini, ada banyak statement yang bikin aku tersinggung :'). Alhasil aku berusaha untuk mulai mengubah mindset-ku, dan bakal sering lihat statement-statement tersebut yang sebagian aku catat di buku catatan. Buat reminder gitu lahh.

     Selanjutnya yang kedua, tentang strategi biar tetap termotivasi. Dalam proses belajar, nggak ada orang yang terbebas dari fase burnout, stuck  dan capek. Sehingga, butuh istirahat biar otak ke-reset sembari melihat dari perspektif lain.

     Hal yang aku suka di bagian ini adalah ketika Adam Grant bilang: Backing up to move forward. Jadi ketika kita ngerasa stuck dan bingung mau ngapain lagi, coba berhenti sejenak, sambil lihat alternatif lain yang bisa ngasih momentum. Ibarat ketika kita nyasar masuk gang buntu, pasti hal yang dilakukan pertama adalah: balik lagi ke jalan awal, sembari nyari jalan lain kan?

     Selain itu, aku suka juga bagian yang dia bahas tentang taking detour, yakni nyari selingan lain yang beda dari apa yang dipelajari. Misalnya, saat ini aku belajar coding, maka aku nyari aktivitas atau hobi lain, yakni merajut. Fungsi kegiatan lain ini adalah untuk "ngisi bensin" lewat kemenangan kecil yang didapat dari kegiatan itu. Kalau bensinnya udah terisi, barulah kita bisa dapat momentum lagi.

     Yang ketiga adalah Membangun Sistem. Bagian ini fokusnya sudah ke lingkup kelompok sih, misalnya seperti menciptakan sistem pendidikan yang bisa maksimalin potensi siswa. Dalam hal ini Adam Grant ngambil studi kasus di Finlandia. Di antaranya, anak dididik dengan guru yang sama selama masa SD, jadi tiap naik kelas nggak ada perubahan guru. Hal ini dilakukan biar si guru bisa mengamati perkembangan anak dengan baik.

     Kemudian Adam Grant juga bahas tentang "nemuin berlian di rekruitmen kerja", jangan terlalu fokus ke pengalaman yang banyak aja. Tapi tentang gimana karakter dia buat bertahan di situasi sulit.

     Jadi dapat disimpulkan bahwa, setiap manusia selalu punya potensi. Hanya saja, belum semuanya tau tentang cara menggali dan memaksimalkannya. Kunci awalnya ada di karakter, dan buku ini beneran ngajak buat memperbaiki karakter kita lewat pembahasan bias-bias manusia yang terlanjur tertanam di mindset.

Rabu, 18 September 2024

Cara Belanja di Amazon Kindle Pakai Bank Jago

      Sebagai pembaca buku digital, pasti udah nggak asing lagi dengan Kindle Store yang jadi toko tempat belanja buku-buku incaran. Apalagi, dengan adanya Kindle Deals, buku-buku incaran harganya jadi murah banget, bahkan kadang lebih murah dari kopi kekinian. Sayangnya, karena Kindle Store ini udah masuk transaksi internasional, pembayarannya jadi sangat terbatas. Soalnya, kadang harus pakai kartu kredit atau debet yang bisa diterima internasional. Hmmm,

     Setelah googling ke sana kemari, akhirnya ketemulah jawaban di quora yang menyatakan bahwa Bank Jago bisa dipakai untuk pembayaran Kindle. Alhasil, aku pun mencoba dan langsung berhasil!

     Mungkin banyak yang belum familiar dengan Bank Jago, soalnya ini bank digital yang jarang ada kantor cabangnya, meskipun bisa juga sih minta kartu fisiknya. Nah, kalau kamu pernah nabung di Bibit, biasanya akan ada rekomendasi buat dihubungkan ke Bank Jago. Dan kalau dihubungkan, otomatis kamu harus buka rekening di bank ini, dengan prosedur yang nggak jauh beda dengan bank pada umumnya.

     Balik lagi ke metode pembayaran di Kindle Store pakai Bank Jago. Cara bayarnya gimana sih? Di postingan kali ini, aku ingin membagikan sedikit tutorial beli buku di Kindle Store (atau mungkin bisa dipakai untuk transaksi lainnya di Amazon) menggunakan Bank Jago.

Cara Menggunakan Bank Jago untuk Transaksi di Amazon Kindle

1. Pertama, pastiin kamu sudah punya rekening Bank Jago, lalu download app Bank Jago di gadget. Habis itu login seperti biasa.

2. Pastiin sudah punya kartu Bank Jago. Kalau belum punya, bisa bikin Kartu Digital dulu. Cepet banget kok, nggak sampai 5 menit, asalkan udah punya rekeningnya ya! Untuk cara bikinnya, bisa lihat instruksi yang ada di situs Bank Jago. Jangan lupa pilih Kartu Digital, soalnya nanti ada pilihan Kartu Fisik juga (ini harus nunggu soalnya bakal dikirim ke rumah kita juga)

3. Aktifkan mode "Pembayaran Internasional" di pengaturan kartu. Caranya klik gambar kartu yang ada di aplikasi, lalu klik pengaturan. Setelahnya swipe ke mode mengaktifkan.

4. Masuk ke situs Amazon, lalu pilih buku yang akan dibeli. Contohnya kayak gambar di bawah ini:


     Lalu klik "Buy now with 1-click". Yang bagian "add an audiobook" nggak usah dicentang kalau nggak pengen nambah audiobooknya.

5.  Setelahnya akan muncul halaman ini:


     Lalu isi nama yang ada di kartu Bank Jago-mu, nomor dan ccv, yang bisa dilihat di informasi kartu (harus masukin pin dulu kalau mau lihat). Setelah diisi lengkap, klik add card, pas udah diproses klik place your order.

6. Tunggu ada pemberitahuan dari Bank Jago. Selesai! Buku kindlemu sudah terbeli.

7. Masuk ke app Kindle yang ada di gadgetmu atau buka device kindle-mu, lalu refresh. Buku yang kamu beli pastikan sudah masuk ya!


     Nah, itu tadi Cara Belanja di Amazon Kindle Pakai Bank Jago. Terima kasih buat yang sudah baca! Semoga bermanfaat ya.

Disclaimer: aku nulis ini nggak ada sponsor atau afiliasi dari Bank Jago. Murni berdasarkan pengalamanku. Kalau ada masalah, coba diskusi di kolom komentar yuk!

Selasa, 17 September 2024

Bersihkan Trauma Pikiran di Marigold Mind Laundry!



      Trauma yang tersimpan di otak memang akan menghambat diri untuk bertumbuh. Sebab rasa trauma ini bikin kita takut dan nggak percaya diri. Oleh karenanya, kita perlu "bersihin" trauma agar bisa menikmati hidup sepenuhnya. Di buku yang berjudul Marigold Mind Laundry dari Jungeun Yun, kita akan melihat gimana orang-orang berusaha membersihkan traumanya, lalu bergerak maju.

Sinopsis Buku Marigold Mind Laundry dari Jungeun Yun

     Di sebuah desa bernama Marigold, datang seorang perempuan misterius bernama Jieun. Jieun sendiri merupakan perempuan yang dikutuk, karena di masa lalu dia tidak bisa mengontrol kekuatannya sehingga mengakibatkan orangtuanya lenyap. Sebagai hukumannya, dia harus hidup ribuan tahun untuk mencari makna terkait kekuatan yang dimilikinya.

     Desa Marigold merupakan desa yang indah dengan pemandangan matahari yang menawan. Di sini, Jieun akhirnya memutuskan untuk membuka jasa Mind Laundry, di mana orang-orang yang memiliki kenangan buruk di masa lalu, bisa memintanya untuk menghapus kenangan tersebut. Nah, ke mana kenangan-kenangan tersebut? Kenangan yang dilupakan akan dipindahkan ke kaos putih yang digunakan saat "ritual". Semakin banyak kenangan yang ingin dihapus, maka semakin banyak noda seperti kelopak bunga. Nah setelahnya, kaos ini akan dijemur, lalu noda tersebut perlahan akan luntur.

     Ada beberapa orang yang datang ke Marigold Mind Laundry ini, di antaranya seorang film-maker yang frustrasi karena merasa gagal, lalu seorang perempuan yang terlibat di hubungan toxic, ada seorang influencer yang namanya tercoreng setelah promosi produk abal-abal, selanjutnya seorang perempuan yang menjadi tidak tau kalau dirinya adalah selingkuhan, dan yang terakhir seorang kurir yang dulunya di-bully dan dibanding-bandingkan dengan kakaknya.

Setiap orang punya cerita,

     Di setiap kisah, kita akan ditunjukkan sudut pandang lain dari kehidupan. Jieun selaku pendengar pun tidak menghakimi alasan orang-orang melakukan tindakan yang mungkin bagi sebagian dari kita terasa salah. Selalu ada bagian dari masa lalu yang menyebabkan mereka melakukan itu, entah karena tidak punya pilihan, atau karena tidak ada yang mengajari sebelumnya.

Kesan terhadap Buku Marigold Mind Laundry dari Jungeun Yun

     Sebagai pecinta buku yang "no plot, just vibes", Marigold Mind Laundry ini sudah cukup memenuhi kriteria yang aku cari sih. Di antaranya: premis cerita menarik, cerita yang ringan, punya pesan bagus, dan vibes yang heart-warming. Bonusnya, latar tempatnya ada di sebuah desa dan penulis jago banget mendeskripsikan, sehingga bikin aku bisa ikutan bayangin dan merasa damai pas bayangin desanya.

     Premis cerita menarik, yakni pelanggan diberi kesempatan untuk menghapus memori luka di masa lalu. Tapi sebelum ritual "penghapusan" dimulai, pelanggan yang ingin menghapus pikirannya akan diberi tahu konsekuensinya. Makanya ada yang akhirnya tetap menghapus memori, atau menerima bahwa memori penuh luka itu menjadi bagian dari hidup mereka.

     Sebenarnya, proses penghapusan memori di buku ini tuh menurutku serupa dengan meditasi. Di mana saat meditasi, kita akan diminta untuk membiarkan pikiran kita lewat, entah baik atau buruk, di mana hal ini akan melatih resiliensi kita dalam menerima keadaan yang telah terjadi pada kita di masa lalu. Di buku ini, tujuan akhir pelanggan ya supaya mereka bisa menerima hidup, entah dengan menghapuskan memori, atau menerima memori itu sebagai bagian dari hidupnya.

     Cerita yang ringan dengan pesan hidup yang bagus. Tokoh yang melakukan "pencucian pikiran" di sini adalah orang-orang yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Seperti, influencer yang hidupnya terlihat mewah, padahal di balik itu semua, ada beban yang harus dibayar. Atau seorang kurir yang sering ngantar barang ke rumah kita, itu juga punya batasan mental tertentu, jadi perlakukan mereka dengan baik, jangan asal bentak-bentak. Kita nggak tahu, mereka punya masalah apa, baik di masa lalu maupun masa sekarang.

     Vibes heart-warming. Di sini yang paling mendukung adanya vibes ini adalah kebijaksanaan Jieun selaku pemilik jasa mind laundry. Dia selalu menjadi pendengar yang baik buat orang-orang yang datang ke tempatnya, tidak menghakimi, bahkan memberikan validasi yang baik atas perasaan pelanggan, tanpa membenarkan tingkah mereka yang mungkin kurang tepat. Selain itu, latar tempat di desa juga semakin menambah kesan heart-warming ini. Soalnya, Desa Marigold memang digambarkan asri dan damai banget. Ala-ala Ghibli lah bahasanya. Oh iya, ada ilustrasi cantik juga sih!

     Kalau tadi sudah bahas kelebihannya, sekarang bahas kekurangannya. Menurutku, penjabaran cerita di setiap tokohnya lumayan slow-paced ya. Entah yang terlalu lambat atau terlalu banyak narasi, jadi kesannya kadang bikin bosen. Tapi balik lagi, bisa aja buku ini memang didesain untuk dibaca pelan-pelan. Buat avid reader, mungkin ngerasa buku ini terlalu berbelit-belit, karena alurnya nggak sat set meskipun udah ketebak. Tapi buat slow-reader, buku ini malah seru banget untuk dinikmati. Apalagi kalau memang suka cerita heart-warming.

     Sebelum menutup ulasan ini, sekadar informasi kalau aku baca ini versi Bahasa Inggris dari ARC Netgalley. Dan baru akan terbit tanggal 3 Oktober 2024 nanti. Terima kasih untuk Netgalley dan Random House UK, Transworld Publisher!

     Nah, itu tadi Review Buku Marigold Mind Laundry dari Jungeun Yun. Terima kasih buat yang udah baca. Oh iya, kira-kira, Penerbit Baca atau Penerbit Haru bakal terjemahin buku ini nggak ya?

Kamis, 12 September 2024

Review Buku: We'll Prescribe You A Cat dari Syou Ishida



      Beberapa waktu lalu, tepatnya akhir Agustus, kucing-kucingku mulai meninggal satu per satu. Karena ini adalah pengalaman pertama melihara kucing, jadi aku bener-bener pertama kali ngerasain kehilangan kucing yang biasanya disayang-sayang. Nggak pernah nyangka bakal sesedih ini. Alhasil, aku jadi keingat salah satu buku yang baru terbit bulan Agustus lalu tentang kucing, judulnya We'll Prescribe You A Cat dari Syou Ishida. Kenapa ngingetin? Karena di buku ini beneran nunjukin gimana kucing bisa sebagai alat untuk "terapi" kejiwaan. Sebagaimana kucing-kucingku juga, meskipun mereka nyebelin tapi pas mereka sering bikin aku terhibur di tengah kehidupan yang keras ini :').

     Balik lagi ke We'll Prescribe You A Cat dari Syou Ishida, kali ini aku ingin menulis ulasan tentang buku ini. Jadi buat yang suka kucing, wajib banget baca ini, apalagi sampul terbarunya warna hijau mint dan super menarik!

Tentang Buku We'll Prescribe You A Cat dari Syou Ishida

     Buku ini berkisah tentang sebuah klinik kejiwaan misterius, yang dipegang oleh dokter Nike dan suster yang bernama Chitose. Di mana setiap orang yang konsultasi di sana akan dititipin kucing untuk dijaga selama beberapa hari. Setiap pasien tentunya akan diberikan stok makanan dan perlengkapan dasar kucing. Nah, buku ini dibagi menjadi beberapa cerita, yang masing-masing membahas tentang 1 pasien yang datang ke sana.

     Kisah pertama dari seorang pemuda yang udah capek dengan tekanan kerja kantornya. Ketika ke klinik kejiwaan ini, dia berharap akan dapat solusi terapi, tapi malahan dia diberi kucing yang bikin dia dipecat dari kantornya. Jadi seolah kucingnya ini nyuruh si pemuda buat keluar dari kantor toxic itu kalau emang udah ngerasa capek. Ini lucu sih, tapi emang kantornya tuh jelek banget sistemnya (meskipun bonafit), soalnya masih banyak gratifikasi dan senioritas, yang bahkan bikin karyawannya banyak yang mundur. Nah, setelah dipecat karena "ngerusak" dokumen, apa yang akan si pemuda ini lakukan? Mau nyari kerja di mana lagi mengingat biaya hidup tetap lanjut meskipun dia dipecat?

     Kisah kedua dari seorang anak kecil yang ngalamin drama di sekolahnya, tapi si ibu sering menyepelekan perasaan si anak. Akhirnya si anak ngotot ngajak ibunya untuk pergi ke klinik kejiwaan ini. Saat dikasih kucing oleh dokter Nike, si ibu ngerasa ada de javu terkait kucing yang dititipin itu.

     Kisah ketiga dari seorang orang paruh baya yang kesel dengan manajer baru di kantornya. Orang ini kesel karena si manajer adalah seorang perempuan yang usianya lebih muda dari dia. Ditambah, si manajer ini suka memuji pegawai lain yang bikin dia ngerasa "risih". Dampaknya, dia sering kepikiran sampai kebawa mimpi dan sering ngerasa halu dengerin suara si manajer ketawa. Alhasil pas datang ke klinik, malah dititipin kucing dengan syarat, si orang ini harus tidur bareng si kucing.

     Kisah keempat dari seorang designer tas yang ingin nyari keseimbangan emosional dan pekerjaan karena dia terkenal sangat perfeksionis sampai bikin rekan kerjanya mundur karena ngerasa bahwa si designer ini sulit dipenuhi ekspektasinya.

     Kisah kelima dari seorang geisha yang rindu dengan kucing yang pernah diadopsi, tapi tiba-tiba menghilang. Nah, karena si kucing telah hilang bertahun-tahun, akhirnya bikin si geisha ini gamau dititipin kucing pas dateng ke klinik kejiwaan ini.

     Yang jadi misteri, siapa sih dokter Nike dan suster Chitose itu? Mengapa mereka selalu nitipin kucing ke pasien yang datang berobat? Dan pas tau jawabannya, aku jadi ikutan sedih dengan masa lalu mereka.

Kesanku terhadap Buku We'll Prescribe You A Cat

     Secara konsep cerita, aku suka banget buku ini. Apalagi ini latarnya di Kyoto, salah satu kota di Jepang yang punya tempat tertentu di hatiku (ceilah). 

     Konsep cerita yang seolah ingin nunjukkin ke kita, bahwa kucing tuh therapeutic. Terutama dengkurannya yang bisa bikin hati tenang, terus badannya yang hangat saat dipeluk, atau bulunya yang lembut saat dipegang. Bahkan orang yang nggak suka kucing, lama kelamaan bakal luluh sendiri dengan kucing. Istilahnya, "kalau kamu nggak cocok pelihara kucing, coba lagi sampai kamu cocok!".

     Penggambaran latarnya juga bikin aku kebayang dengan suasana Kyoto yang tenang dan tradisional. Apik banget!

     Tentang masalah yang diusung, sebenarnya bukan masalah yang berat. Hanya saja, masalah tiap tokoh itu masalah umum yang sering kita jumpai tapi seringkali dianggap sebelah mata. Seperti, masalah kantor toxic yang beban kerjanya nggak masuk akal, biasanya kan kita bakal dibilangin "namanya kerja ya susah, udah untung dapet gaji". Alhasil, banyak orang yang nggak tau batasan: sampai mana kadar normal dari sebuah kantor yang toxic?

     Selain itu, masalah seperti meremehkan perasaan anak kecil. Sebagai orangtua, sudah seharusnya kita tidak memandang sebelah mata perasaan anak kecil. Jika dari kecil mereka sering dibilang, "halah, cuma gitu aja, jangan banyak drama deh", pas udah besar, ya mereka jadi sulit memvalidasi perasaan dan pikiran mereka sendiri.

    Nahh, jadi buat siapa sih buku ini? Buku ini cocok buat kamu pecinta kucing atau pecinta sastra Jepang yang heart-warming. Bukunya ringan, kira-kira mirip dengan vibes Sweet Bean Paste, Days in Morisaki Bookshop dan A Cat Who Saved Books. Oh iya, buku ini masih dalam versi Bahasa Inggris ya. Berdoa yuk, siapa tau ada penerbit Indonesia yang akan terjemahin ke Bahasa Indonesia :D.

     Demikian ulasan buku dariku, terima kasih Netgalley dan Random House UK Publishing atas soft copy ARC-nya. Terima kasih juga buat yang udah baca!

Selasa, 10 September 2024

Review Buku: Funny Story dari Emily Henry


     Emily Henry adalah salah satu auto-buy author di genre romansa kontemporer. Soalnya, selain dia punya selipan humor menarik, karya dia selalu ada ajang refleksi diri dari tokohnya. Biasanya kan, di novel romance, tokoh-tokohnya sering digambarkan hampir sempurna, kayak, serba pinter, cantik, kaya, dan semacamnya. Tapi di buku-buku Emily Henry, hampir semua tokohnya selalu realistis. Jadi untuk sebagian orang bakal terasa nyata, termasuk Funny Story yang akan aku review ini.

     Funny Story berkisah tentang seorang perempuan bernama Daphne yang tiba-tiba diputusin tunangannya yang bernama Peter, dengan alasan, bestie-nya Peter ini confess ke dia. Bestie-nya Peter yang bernama Petra ini, tiba-tiba kayak ngerasa nggak ikhlas kalau Peter harus nikah, padahal Petra sendiri udah punya pacar yang bernama Miles. Alhasil pas Bachelor Party atau pesta bujangnya Peter, Petra dan Peter ini jadian.

     Nah, sebelumnya Daphne ini tinggal bareng di rumah Peter. Dan Petra tinggal bareng di apartemennya Miles. Karena Daphne putus, alhasil dia didepak dari rumah Peter, soalnya Petra mau tinggal di sana. Mengingat Daphne yang nggak tau mau tinggal di mana, akhirnya dia pindah ke apartemen Miles untuk sementara waktu. Istilahnya tukeran tempat tinggal lah.

     Nggak sampai itu, dengan santainya, Peter dan Petra ngundang Daphne dan Miles ke acara nikahan mereka. Daphne dan Miles yang sama-sama sakit hati pun akhirnya sok-sok-an ngaku kalau mereka pacaran, kissing tiap salah satu dari mereka lihat, atau sekadar flirting satu sama lain.

     Tapi yang namanya strangers, nggak segampang itu juga buat acting. Makin lama mereka makin awkward satu sama lain. Apalagi, masing-masing dari mereka punya trust issue mengingat keduanya berasal dari keluarga yang ruwet.

     Sepertinya ending-nya bakal banyak yang bisa nebak. Jadi pertanyaannya aku ubah, gimana cara mereka menyelesaikan kecanggungan hubungan keduanya? Apakah mereka benar-benar bisa move on dari mantan pacar masing-masing? Ending seperti apa yang sebenarnya mereka harapkan? Dan bagaimana dengan masalah keluarga masing-masing?

Kesanku Terhadap Buku

     Oke, sekarang waktunya review atau mungkin lebih tepatnya berbagi kesan???

     Pertama, jujur buku ini bukan buku terbaik dari Emily Henry (versiku). Entah momen bacanya yang kurang pas (karena sedih setelah kitten-kittenku meninggal), atau emang trope-nya agak canggung? Tapi yang jelas, I'll give another try several months ahead. Buat mastiin aku beneran suka atau enggak.

     Karakter Daphne di sini terasa real dan complicated. Mulai dari profesi dia yang seorang librarian, dan masih struggle dalam hal kemapanan di umur dia yang 33 tahun. Sampai perasaan insecurity untuk membuka diri karena masalah trust issue dan hal lainnya. Masa lalu keluarga yang ruwet, dengan ayah yang suka flirting ke perempuan lain sampai lupa dengan keberadaannya, bikin dia vulnerable ketika ada lelaki macam Peter macarin dia.

     Oh iya, seperti biasa, tokoh utama dari bukunya Emily Henry pasti digambarkan sebagai pecinta buku. Di sini kita bisa ngelihat gimana Daphne sangat menikmati pekerjaannya sebagai librarian anak, yang ngasih support ke anak-anak buat cinta buku, yang ngasih validasi ke Miles bahwa audiobook juga termasuk "membaca", mengingat Miles disleksia yang hanya bisa menikmati audiobook. Bahkan selalu kaitin momen hidupnya dengan buku-buku yang pernah dia baca.

     Sementara karakter Miles juga demikian. Profesi dia yang seorang bartender seringkali bikin dia diremehkan keluarga Petra dan orang lain. Dia juga punya latar belakang keluarga yang toxic, sampai-sampai bikin dia jadi people pleaser dan sulit mengekspresikan perasaan. Nah pas ketemu Daphne, keduanya mungkin cocok, tapi jadi sering salah paham.

     Karakter pendukung kayak Ashleigh dan Julia, aku juga suka. Soalnya mereka seperti "jembatan" hubungan Daphne dan Miles yang ruwet karena pikiran mereka juga ruwet. Lalu, ibunya Daphne yang super mom paling suportif, Yang selalu bikin Daphne lebih kuat ketika isi pikirannya mulai ngelindur.

     Terkait trope yang agak aneh, bikin aku agak canggung. Ngebayangin harus serumah dengan stranger lawan jenis apa ya nggak takut, apalagi Daphne di sini bisa dibilang introvert yang susah berbaur dengan orang lain. Jadi banter yang biasanya ada di buku Emily Henry, di sini berasa nggak masuk di aku. Apalagi pas bagian adegan 21+, aku skip soalnya canggung banget. Kayak, mereka tuh tiap mau ngelakuin, pasti batal karena tiba-tiba "ngerasa salah buat lakuin". Bingung deh, baca sendiri buat tau maksudku.

     Perkembangan karakternnya bagus. Karena di sini ditulis dari sudut pandang Daphne, aku jadi tau gimana cara Daphne merenungi sikap dan pikirannya. Seperti memilah, mana tindakan yang benar, mana pikiran yang harus dia percaya, dan semacamnya. Alhasil, di akhir dia punya keberanian untuk memilih langkah terbaik, Paling suka pas dia confront ayahnya yang nyebelin, yang suka sok paling paham Daphne padahal selama ini dia absen di setiap momen terbaiknya. Suka juga pas Peter tiba-tiba ngajak balikan, tapi Daphne akhirnya punya prinsip kuat, dan tau apa yang dia mau.

     Secara keseluruhan, Funny Story dari Emily Henry ini masih termasuk bagus, tapi bukan yang terbaik kalau dibanding karya dia sebelumnya. Penyelesaiannya memang memuaskan, tapi alurnya agak bosenin di pertengahan, karena terlalu banyak scene nggak penting yang malah bikin bingung dengan fokus ceritanya. Kalau di-ranking, Funny Story ini di ranking 3. Ranking 1 masih Beach Read (karena ini buku yang bikin aku tertarik baca karya dia). Ranking 2 Happy Place, karena ngerasa relate dengan karakter Wyn. Ranking 3 Funny Story, karena penyelesaiannya bikin puas.

     Sekian ulasan buku Funny Story dari Emily Henry, terima kasih buat yang udah baca! 

Minggu, 01 September 2024

Kisah Zul, Tito dan Mae, Kucingku yang Meninggal Karena Panleukopenia

     Bukan tentang buku, tapi ini tentang kisah kucing-kucingku yang meninggal karena Panleukopenia. Jadi postingan sekarang, mungkin terkesan personal. Karena aku nulisnya juga sambil nangis.

      2 bulan lalu, tepatnya tanggal 27 Juni 2024, lahir 3 ekor kucing lucu bernama Zul, Tito dan Mae. Mereka lahirnya memang dalam keadaan ringkih, soalnya induknya hamil di usia 4 bulan. Tapi biar begitu, aku sebisa mungkin ngasih makanan terbaik yang aku bisa. Di usia 1 bulan, aku mulai ngasih makanan basah merk Royal Canin Mom and Baby, kadang Whiskas junior atau Cat Choize, pokok yang basah, untuk bantu nutrisi mereka mengingat ASI ibunya nggak terlalu banyak.

     Tapi takdir berkata lain, tanggal 30 Agustus kemarin, Mae meninggal, 31 Agustus Zul giliran nyusul Mae, dan pagi tadi, Tito pergi juga. Mereka mengidap virus mematikan, yakni Panleu.

     Sedih karena aku awam banget soal kucing, jadi Mae meninggal sendirian, karena pas itu aku tidur siang. Karena nyesel, aku akhirnya memutuskan untuk jaga Zul dan Tito hampir 24 jam. Dan keduanya meninggal di depanku :').

     Gejala awal, mereka bab-nya warna putih dan cair, tapi telat sadar, dan setelah Mae meninggal, aku langsung bawa Tito dan Zul ke dokter, tapi sayangnya dokter sendiri udah terlihat pasrah dan nggak ngasih pengetahuan yang lengkap terkait Panleu.

     Tanggal 29 Agustus, Mae masih makan lahap, tapi Tito dan Zul lemes. Tapi aku lengah banget, aku kira mereka GTM karena mereka berdua makannya agak picky.

     Tanggal 30 Agustus, Mae meninggal pas tidur, otomatis aku panik dan langsung bawa Tito dan Zul ke dokter. Mulai jam 8 malam, aku stand by tiap 1 jam sekali buat ngasih makan dan minum lewat pipet. Mereka aku taruh dalam kamarku biar bisa ngawasin. Tapi sayang, Zul sepertinya tau kalau Mae udah nggak ada. Alhasil dia manggil-manggil Mae dan lari ke tempat biasanya Mae sembunyi.

     Tanggal 31 Agustus, aku udah mulai curiga kalau Zul bakal nyusul. Soalnya dia sering keluar kamar buat nyari tempat gelap dan sembunyi. Entahlah, mungkin Zul tau kalau misal dia meninggal, aku bakal nangis sekeras ketika Mae meninggal. Sebisa mungkin aku tetep pipetin makan ke dia, awalnya lahap, tapi semakin sore, keadaannya drop.

     Jam setengah 6 sore, aku makin was-was dan udah bersiap buat ikhlas, soalnya kaki belakang Zul udah nggak bisa bergerak, bibirnya pucat, makanan yang aku pipet juga nggak ketelan. Aku temanin dia sambil ngomong, "aku sayang Zul, bilangin Mae aku juga sayang sama dia, sampaiin maafku ke Mae karena nggak nemenin dia di saat terakhirnya". Dan setelah Iqamat maghrib, Zul meninggal. Jadi sakaratul mautnya hampir setengah jam. Aku nangis antara sedih dan lega, karena akhirnya dia udah nggak sakit lagi.

     Malamnya, Tito mulai drop. Aku udah siap jika semisal dia nyusul Zul, apalagi jam 9-10 dia nggak respon makanan seperti biasanya. Aku temenin dia sambil ngasih lihat video-video lama dia dan saudara-saudaranya. Dia lihat sambil sesekali mengeong lirih, setelah itu aku cuma bisa ngajak omong  "Aku sayang sama Tito, aku udah ikhlas kalau Tito nyusul Mae dan Zul, asal udah nggak sakit. Sampaikan maafku ke Zul dan Mae kalau selama ini aku kurang maksimal dalam rawat kalian, baik pas sehat atau pas sakit. Bilang ke Mae dan Zul juga, buat sering-sering datang ke mimpiku ya. Aku bakal kangen kalian. 2 bulan sama kalian beneran berkesan". Sambil bacaan sholawat dan doa-doa, sampai dia tidur.

     Tanggal 1 September, jam setengah 1 pagi, aku mimpi Mae dan Zul main di kandang terbuka yang ada di halaman luas, nggak tau itu di mana. Habis itu kebangun dengan suara erangan Tito, dan lanjut ngasih makan dia. Ternyata dia masih respon, meskipun hanya sedikit.

      Jam 3-an, aku bangun lagi, dan pas lihat dia di kursi tempat dia tidur, udah nggak ada. Ternyata dia pergi ke kolong meja. Aku ambil dia, lalu kubalikin ke tempatnya, eh ternyata dia minta turun dan lampunya dimatiin. Lalu aku pakai lampu redup buat ngajak dia ngobrol, sambil ngasih minum, tapi udah nggak respon. Nafasnya masih normal, lalu balik tidur lagi.

     Adzan subuh dia kebangun lagi, mau lari ke kolong tapi aku tangkap. Jadi posisinya dia udah di lantai, lalu aku ambil alasnya dia di kursi, buat alas dia di lantai. Dia mengerang non-stop, lalu naik ke pangkuanku. Aku ajak dia ngomong seperti kemarin sambil bacain shalawat. Sampai akhirnya setelah Iqamat subuh, sekitar jam 5 kurang seperempat, dia meninggal.

     Selanjutnya, dia dikuburkan di deket Mae dan Zul. Oh iya, ketiganya dibungkus pakai kain umbul-umbul warna merah putih, karena 2 alasan: 1. Semasa mereka sehat, mereka sering main pakai umbul-umbul itu untuk tempat sembunyi atau jumpalikan, sampai sobek dikit. 2. Sebagai simbol perjuangan mereka terhadap penyakit mematikan, sekaligus perjuangan mereka bertahan hidup dengan kondisi imun yang lemah sejak lahir. Di makam mereka ditindihin pot bunga kamboja, tempat mereka main tanah dulu.

     Sudah ikhlas, tapi sedihnya masih ada. Sering kepikiran kalau selama ini aku kurang maksimal dalam merawat mereka, sampai bisa kena virus itu. Sering marah juga pas mereka ee sembarangan atau pas mereka keluar tempat teritorinya kebablasan (soalnya takut dimakan kucing jantan yang diduga bapaknya mereka).

     Zul, Tito, Mae, aku kangen bersihin kandang kalian, kangen jemur kalian pas pagi, kangen siapin makan buat kalian, kangen angkat-angkat kalian sampai kalian cakar, kangen suara kalian :'). Entahlah, setelah ini mau pelihara kitten lagi atau enggak. Yang jelas, mau fokus ke induk mereka yang lagi berduka sampai nggak mau makan semenjak mereka sakit :'(. Karena induknya gabisa nyusuin, jadi cuma bisa lihat mereka dari jauh.

     Banyak orang bilang, kucing tidak akan masuk surga. Tapi aku percaya, urusan ruh makhluk hidup itu rahasia Allah. Bisa jadi kucing ikut ke surga, dan bersama pemiliknya saat di dunia. Aku berharap, aku bisa ketemu sama Zul, Tito dan Mae lagi.

     Tujuan aku nulis ini buat habisin masa grieving yang entah akan selesai kapan. Jadi sebagai tempat pelampiasan emosi saat ini. Zul, Tito, Mae, sekali lagi, aku sayang banget sama kalian. Sekali lagi maaf kalau kalian kurang ngerasa disayang karena perasaannya harus terbagi, dan maaf kalau aku belum bisa kasih surga buat kalian selama di dunia :'(.

     Belum bisa posting foto mereka, soalnya masih belum siap.

Rabu, 21 Agustus 2024

Review Buku: The Lantern of Lost Memories dari Sanaka Hiiragi


      Sering denger kalau seseorang itu meninggal, maka sebelum mereka benar-benar "dicabut nyawanya" akan ditampilkan memori terbaik masa hidupnya. Nah, salah satu literatur Jepang yang aku baca punya konsep cerita yang mungkin terinspirasi dari rumor-rumor tersebut. Judul bukunya adalah The Lantern of Lost Memories dari Sanaka Hiiragi. Akan terbit di tanggal 22 Agustus 2024 untuk versi Bahasa Inggrisnya.

     Buku ini berkisah tentang studio foto yang menjadi tempat pertemuan hidup dan mati, di mana di studio foto itu ada penjaga yang akan melayani bernama Hirasaka, seorang pria misterius yang "menunggu" seseorang untuk membantunya mengingat 

     Hirasaka di sini akan mengajak orang-orang yang telah meninggal untuk memilih 1 foto di setiap tahun ketika mereka hidup. Jadi, semisal usia mereka 93, ya berarti harus memilih 93 foto. Lalu, foto-foto tersebut akan dipasang di sebuah lentera yang kemudian akan menyajikan kenangan mereka selama hidup.

     Nah, buku ini ada 3 cerita. Kisah pertama dari seorang perempuan yang semasa hidupnya sangat passionate di bidang pendidikan dan di akhir hidupnya, dia merasa bersyukur karena telah memberikan manfaat untuk orang lain lewat sekolah yang didirikannya, detail ceritanya menarik banget, soalnya bakal bahas gimana perjuangannya ketika mencoba mempertahankan sekolah ketika ada bencana. Memori yang menurutnya dulu sedih, ternyata ketika dilihat lagi lewat clip yang ada di lentera itu, terasa manis.

     Kisah kedua, berasal dari seorang Yakuza yang merasa bahwa hidupnya selama ini adalah "bencana", karena dia selalu melakukan banyak kejahatan. Awalnya, dia enggan ketika diminta untuk memilih foto, karena dia sudah yakin, tidak ada foto bagus tentang dia. Tak disangka ketika dia dipaksa memilih foto, dia menemukan bahwa dirinya pernah melakukan hal baik. Sejujurnya, ini cerita yang paling aku suka karena si Yakuza ini apa adanya :'). Apalagi ketika melihat hubungannya dengan si "tikus" kesayangannya.

     Kisah ketiga berasal dari seorang anak kecil yang selama hidupnya penuh penderitaan. Nah, di sini ada beberapa kejutan yang bikin beda dari 2 kisah sebelumnya. Aku gabisa ngasih tau, soalnya takut spoiler :'). Intinya, kisah ini juga ada hubungannya dengan alasan Hirasaka selaku penjaga foto studio kehilangan memorinya.

     Sekarang waktunya review

     Buku ini ngingetin aku dengan Hotel De Luna, drama Korea tentang hotel tempat orang meninggal mampir untuk istirahat, sebelum melanjutkan perjalanan ke alam baka. Selain itu, cara berceritanya ngingetin dengan Funiculi Funicula Series, seperti pesan hidup dan kesan hangatnya.

     Salah satu kutipan yang aku inget adalah dari Yakuza, yang intinya: hidup kita adalah produk dari pilihan yang diambil. Jadi, kenapa harus nyesel kalau sebelumnya kita pilih itu? Toh semuanya nggak bisa kembali.

     Di situ, diperlihatkan scene kehidupannya yang menjadikannya seorang Yakuza. Mungkin memang dia sedih kenapa dia berakhir menjadi Yakuza, tapi dia tidak menyesali tindakan yang dilakukan di "sekitar sungai" ketika dia masih muda dulu.

     Di akhir hidupnya, dia menyadari bahwa dirinya penjahat yang jelas akan masuk neraka. Padahal selama hidupnya, dia memberikan harapan kepada seorang "tikus" yang punya sifat aneh. Dengan kata lain, dia rendah hati dengan tidak menyadari perbuatan baiknya selama hidup. Justru di sini bikin aku mikir, kalau definisi rendah hati akan kebaikan itu yang menilai adalah orang lain, bukan diri sendiri. Mana ada orang yang rendah hati tapi mengaku rendah hati? Jatuhnya sombong karena rendah hati nggak sih?

     Terkait teknis penulisan, menurutku banyak banget typo mengingat ini masih ARC alias belum diedit full. Lalu yang bikin aku agak bingung adalah perubahan sudut pandang antara Hirasaka dan tamu-tamunya, nggak ada keterangannyaaaa -_-. Jadi aku di awal sempet bingung, "lah, kok Hirasakan mikir gini?", oh ternyata udah ganti sudut pandang ke tokoh lain.

     Menurutku, buku ini lumayan potensial untuk hype di kalangan pembaca sebagaimana Before the Coffee Gets Cold, atau Morisaki Bookshop. Soalnya, selain konsep ceritanya yang agak baru, buku ini ngasih kesan heart-warming dan bikin kita semakin menghargai kehidupan yang diberikan Allah. Jadi, gunakanlah sebaik mungkin.

     Sekian Review Buku The Lantern of Lost Memories dari Sanaka Hiiragi, terima kasih buat yang udah baca. Dan sebagai pecinta literatur Jepang, tunggu ulasan buku Jepang lain yang akan aku tulis ya! I have a lotttttttt of to be reads about Japanese Literature :D! 

Minggu, 11 Agustus 2024

Review Buku: The Kamogawa Food Detectives dari Hisashi Kashiwai


      Hai semuaa, udah lama banget nggak nulis di blog ini karena dilema ada perubahan nama domain. Ditambah, aku beberapa bulan terakhir mengalami reading slump jadi nggak punya topik untuk ditulis di sini. Nah, baru-baru ini aku habis baca novel Japan Literature yang super ringan dan bantu ngatasin reading slump-ku, judulnya The Kamogawa Food Detectives dari Hisashi Kashiwai. Judulnya menarik nggak sih? Kayak, "apaan nih 'Food Detectives' ini?" Buat yang pengen tau, bisa baca tulisan ini sampai selesai!

Sinopsis Buku

     Memori boleh hilang, tapi kenangan terhadap cita rasa makanan pasti akan tertinggal. Buat kalian yang sekarang udah beranjak dewasa, pasti ada salah satu makanan yang bikin kalian nostalgia dengan masa kecil. Semisal, makanan yang dimakan di suatu restoran bersama keluarga, atau jajanan masa SD. Nah, saat ini kalian pengen banget makan makanan tersebut, sayangnya beda tangan yang memasak, bisa beda hasil.

     The Kamogawa Food Detectives dari Hisashi Kashiwai berkisah tentang seorang mantan detektif kepolisian bernama Kamogawa yang membuka "restoran misterius", nah di restoran ini mereka tidak menyediakan menu secara pasti, karena setiap harinya menu akan berubah. Tapi yang menarik, Kamogawa membuka jasa "menemukan makanan yang dimakan customer di masa lalu". Maksudnya gimana nih?

     Sebenarnya di sini ada banyak cerita, tapi aku mau ambil salah satu kisah yang menurutku menarik, yakni kisah tentang seorang perempuan yang ingin merasakan Tonkatsu buatan mantan suaminya. Di sini dia meminta Kamogawa untuk re-create makanan tersebut, tapi sebagai awalan, si perempuan akan diwawancara terkait asal usul mantan suami, pekerjaan dan semacamnya. Tujuannya untuk mencari tahu kebiasaan serta bahan makanan yang kemungkinan digunakan oleh si mantan suami. Nah, setelah wawancara, Kamogawa akan traveling ke berbagai tempat untuk riset terkait makanan yang digunakan.

     Setelah melakukan riset dan semacamnya, Kamogawa akan praktik dan eksperimen beberapa jenis makanan, dalam ini Tonkatsu. Jadi hasil yang rasanya paling pas, akan disuguhkan ke customer untuk dinilai. Jujur, pas bagian "penilaian makanan" tuh lumayan bikin deg-degan, soalnya ikutan takut kalau nggak sesuai sama ingatan customer. Tapi karena cerita ini gampang ditebak, jadi pasti setiap ending-nya bakal berakhir baik.

Opini terhadap buku

     Buku ini punya alur yang datar banget ya, jadi buat pecinta alur dinamik yang penuh kejutan bakal ngerasa buku ini membosankan. Tapi, karena aku tipe pembaca santai yang nyarinya bacaan ringan, aku suka dengan buku ini, apalagi sebelum baca ini aku lagi reading slump. Ceritanya gampang ditebak dan selalu memuaskan ya, pokok tipe yang heart-warming lah.

     Latar ceritanya ada di Kyoto, tepatnya di Higashiyama, dan deskripsi latarnya lumayan detail, jadi bisa bayangin gimana lingkungan di Kyoto, apalagi aku suka bgttttttt sama kota Kyoto (bring me there ya Allah!!!).

     Yang paling aku suka adalah deskripsi makanan yang dimasak Kamogawa. Detail banget sampai aku bisa membayangkan rasa aslinya seperti apa, (setiap habis baca tiap bagian cerita pasti ikutan lapar). Di sini juga nambah wawasanku tentang makanan Jepang pada umumnya, kayak cara membuat suatu kaldu sup, cara mengolah bumbu-bumbu yang ada, dan cara penyajiannya.

     Konsep ceritanya juga menarik, yakni misi penemuan resep makanan yang dimakan di masa lalu. Walaupun agak too good to be true, tapi ya masih bisa diterima lah. Hehehe.

     Nggak banyak sih yang bisa aku sampaikan terkait buku ini, karena memang lumayan monoton ceritanya. Jadi, demikian review buku The Kamogawa Food Detectives dari Hisashi Kashiwai, dan terima kasih buat yang sudah baca.

Selasa, 21 Mei 2024

Review Buku: Girls dari Minato Kanae



     Minato Kanae memang penulis yang terkenal dengan gaya berceritanya, di mana beliau selalu menyelipkan iyamisu, yakni selipan tentang sisi tergelap manusia. Kali ini, aku ingin menulis review bukunya yang berjudul Girls, dan ini adalah buku ke-empatnya yang pernah aku baca.

     Buku ini berkisah tentang dua perempuan SMA bernama Yuki dan Atsuko, yang merupakan sepasang "sahabat" dengan hubungan yang cukup unik. Keduanya punya karakter yang cukup berbeda, di mana Yuki cenderung dingin, cuek dan "lempeng", sementara Atsuko bisa dibilang adalah orang yang sering kita sebut sebagai people pleaser, karena dia sangat mempedulikan opini orang lain tentangnya.

     Suatu ketika, datanglah seorang siswi baru dari SMA favorit bernama Shiori. Tentu cukup aneh ada siswi SMA favorit yang pindah ke SMA biasa. Kebetulan, Yuki dan Atsuko sering menemani Shiori makan bersama di kantin, sehingga rasa penasaran mereka pun langsung ditanyakan ke sumbernya. Ternyata, salah satu alasan Shiori pindah ke SMA biasa ini adalah karena telah menyaksikan seseorang bunuh diri. Dan anehnya, Yuki dan Atsuko malah jadi terinspirasi untuk menyaksikan seseorang "sakaratul maut", supaya mereka bisa menandingi Shiori. Apa yang Yuki dan Atsuko lakukan untuk memenuhi keinginannya?

Review Buku Girls dari Minato Kanae

     Pertama, aku ingin mengulas tentang konsep dan alur bukunya. Buku ini ditulis dari berbagai sudut pandang yang nggak dituliskan di setiap perpindahannya, jadi harus mengira-ngira sendiri, "ini sudut pandang tokoh mana ya?". Untuk membedakannya, kita bisa melihat dari kebiasaan setiap tokoh, misalnya: lokasi yang sering didatangi tokoh di mana? Hubungan tokoh dengan keluarganya gimana? Atau, siapa saja yang ditemui tokoh di dalam buku itu? Awalnya, aku agak bingung juga, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa.

     Untuk tema cerita, bisa dibilang ini psychological thriller, karena sedikit banyak mengungkap isi pikiran dan tingkah laku manusia yang sebelumnya dipengaruhi oleh latar belakang lingkungannya. Seperti biasa, sebagian besar buku Minato Kanae pasti membahas tentang isi pikiran tergelap manusia, meskipun belum tentu dilakukan juga sih. Ya kayak manusia pada umumnya, pasti sesekali punya intrusive thoughts, di buku ini para tokohnya juga bersikap demikian. Dan karena fokus buku ini adalah tentang "kematian", isi pikiran Yuki dan Atsuko ya tidak jauh dari hal tersebut. Seperti, membayangkan kondisi seseorang yang bunuh diri, atau membayangkan dirinya membuat seseorang kehilangan nyawa, dan semacamnya.

     Terkait penokohan, aku mau fokus di 2 tokoh utama, yakni Yuki dan Atsuko. Yuki dan Atsuko ini adalah sepasang teman dekat dari kecil karena keduanya sama-sama mengikuti kendo. Meskipun sekilas keduanya terlihat dingin dan cuek satu sama lain, sebenarnya mereka saling memikirkan kebaikan satu sama lain. Yaa, walaupun sedikit banyak ada namanya "persaingan" sesama perempuan, tapi ya bukan yang parah banget. Mereka memang teman dekat, tapi karakter keduanya lumayan berbeda.

     Yuki digambarkan sebagai sosok yang dingin, cuek, tanpa ekspresi dan gaya bicara yang ketus. Hal ini dipengaruhi dengan latar belakang keluarganya yang menurutku agak menyebalkan, di mana Yuki terbiasa menyembunyikan emosi di hadapan mereka. Bahkan ada suatu "insiden" yang mencelakakan Yuki, tapi keluarganya malah balik menyalahkan. Alhasil, hal ini mendorong Yuki untuk rajin belajar agar bisa segera keluar dari rumah ketika kuliah nanti.

     Sementara Atsuko adalah tipe yang lebih mudah membaur dengan orang lain, meskipun dia adalah people pleaser. Atsuko selalu memikirkan opini orang lain tentangnya, di mana hal ini menyebabkan dia berhenti melakukan hal yang disukainya (dan jago). Keluarganya sebenarnya bisa dibilang suportif, tapi entah kenapa, Atsuko jarang mendengarkan opini dan dukungan mereka.

     Karena perbedaan sifat ini, Yuki ingin memberikan "pelajaran penting" kepada Atsuko, begitu juga dengan Atsuko, yang ingin membuktikan kepada Yuki bahwa dia bukan orang lemah. Lucu sih persahabatan mereka, sebenarnya baik-baik saja, tapi karena sering mikir aneh-aneh jadi ngira ada masalah.

     Yang aku suka dari buku ini, meskipun buku ini kelihatannya bahas tentang "kematian", tapi pelajaran yang diberikan tuh banyak banget. Khususnya terkait menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Banyak kutipan-kutipan yang bikin orang bangkit dari keterpurukan dan mensyukuri apa yang dimiliki dalam hidup, misalnya ini:

Tuhan tidak akan meminjamkan talenta tanpa tujuan apa-apa.

 Kutipan ini muncul setelah salah seorang tokoh berhasil memanfaatkan kemampuan yang selama ini berusaha dia sembunyikan, untuk menyelamatkan orang lain. Bisa dibilang, bagian ini mengajak kita merenung, bahwa Allah menciptakan kita tuh karena ada peran penting yang bisa kita lakukan. Jadi, jangan merasa rendah diri hanya karena ucapan orang lain.

     Selain itu, buku ini juga nyinggung isu bullying atau perundungan, di mana dampak dari perundungan ini merusak mental seseorang bahkan sampai ke bunuh diri. Tak hanya itu, buku ini juga menyelipkan beberapa hukum karma, kayak "apa yang kamu lakukan, suatu saat akan berbalik kepadamu". Terkait karma, ada beberapa hal yang beneran bikin aku puas sama hukumannya, soalnya ada beberapa tokoh menyebalkan yang sangat merugikan masa depan orang lain.

     Yang aku kurang suka, buku ini alurnya sangat lambat tapi nggak disertai dengan hal-hal yang bikin "penasaran" atau yang bikin semangat untuk lanjutin. Aku sendiri butuh waktu lama buat selesaiin ini, dan sempet kena reading slump karena bosenin banget. Klimaksnya sendiri baru menarik pas pertengahan mau ke akhir.

     Meskipun biasanya buku Minato Kanae ada plot twist, menurutku di buku ini kayak bisa ditebak kelanjutannya. Terutama buat yang terbiasa baca buku serupa.

Nah, itu tadi Review Buku Girls dari Minato Kanae. Buat yang udah baca, gimana menurut kalian? Oh ya, terima kasih yang udah baca review ini sampai selesai :D.

Rabu, 27 Maret 2024

Review Buku: The Goodbye Cat dari Arikawa Hiro



      Setelah sebelumnya aku dibuat kagum dengan tulisannya yang berjudul The Traveling Cat Chronicles, kali ini aku dibuat heart-warming lewat buku The Goodbye Cat, buku terbaru Arikawa Hiro yang diterjemahkan ke bahasa Inggris.

     Kali ini aku ingin menuliskan pendapatku tentang buku ini, terkesan subjektif sih, tapi semoga bisa ngasih gambaran tentang bukunya terutama buat pecinta kucing sekaligus Japan Literature.

     The Goodbye Cat merupakan buku Arikawa Hiro yang terdiri dari beberapa kisah kucing dan pemiliknya. Baiklah langsung saja, aku akan merangkum kisah tersebut secara singkat biar nggak spoiler, hehehe.

Sinopsis The Goodbye Cat dari Arikawa Hiro

     Kisah pertama berasal dari Keluarga Sakuraba, yang mengadopsi anak kucing bernama Kota ketika sang istri tengah hamil anak keduanya, Hiromi. Karena bisa dibilang "umur" mereka hampir sama, Hiromi sangat dekat dengan Kota sejak dia balita. Suatu hari, Hiromi kecil mulai belajar tentang realita bahwa semua makhluk hidup di bumi akan mati. Alhasil dia merasa takut apabila Kota juga akan mati suatu hari nanti. Oleh karena itu, keduanya tumbuh saling menikmati waktu bersama, sehingga apabila salah satu di antara mereka ada yang mati, tidak akan tumbuh penyesalan.

     Kisah kedua berasal dari keluarga Kaori dan Keisuke yang mempunyai bayi perempuan bernama Shiori. Keisuke adalah suami yang clumsy atau gampang kikuk ketika harus berhadapan dengan kehidupan rumah tangga. Hal ini yang membuat Kaori kesal dan malas mengharapkan bantuan Keisuke untuk mengurus bayi. Suatu ketika, Keisuke menemukan bayi kucing berwana oren, yang kemudian dia rawat sehati-hati mungkin. Tak disangka, datangnya kucing oren di keluarga mereka malah memberikan sebuah perubahan besar di kehidupan rumah tangga Kaori dan Keisuke.

     Kisah ketiga berasal dari kisah seorang ayah yang menurutku sifatnya agak menyebalkan, karena dia seolah nggak peduli dengan apapun kecuali dirinya. Suatu hari dia menemukan kucing betina dan memberikannya ke istri untuk dipelihara. Si ayah ini sebenarnya nggak terlalu suka kucing, bahkan selalu menendang ketika si kucing ini mendekat. Tapi ternyata kucing ini tetap setia dengan si ayah.

     Kisah keempat berasal dari kisah seorang anak yang baru ditinggal ibunya meninggal, lalu tak lama ayahnya menikah lagi dengan perempuan bernama Haruko. Meskipun Haruko adalah perempuan baik yang memperlakukan si anak dengan baik juga, si anak masih belum siap memanggilnya degan sebutan "Ibu". Suatu hari, ayahnya mengajak mereka untuk liburan di Cat Island, dan dari sinilah kehidupan mereka mulai berubah.

     Kisah kelima berasal seorang owner kucing yang sering diganggu kucingnya tiap malam waktu tidur. Bukannya kesal, malah si owner semakin gemas dengan kelakuan kucingnya. Untuk cerita ini, lebih ke cerita sehari-hari aja sih.

     Kisah kelima dan keenam, bisa dibilang adalah versi pendek dari The Chronicles of Traveling Cat. Jadi, untuk lebih jelasnya, bisa baca postinganku di tulisan terkait :D.

Baca juga: Review Buku The Chronicles of Traveling Cat dari Arikawa Hiro


Review Buku The Goodbye Cat dari Arikawa Hiro

     Sumpah ya, cara Arikawa Hiro dalam gambarin interaksi kucing dan manusia tuh indah bgt! Sebagai pembaca, kita bisa ngerasain sudut pandang tokoh di cerita yang perasaannya macam-macam, mulai gemes karena tingkah laku kucing, sedih karena kucing liar yang harus rebutan makanan, atau kesal kalau si kucing mulai bikin "bencana" di rumah.

     Selain itu, ada beberapa cerita di sini yang ngasih sudut pandang kucing terhadap manusia. Jadi kita bisa diajak berkhayal, kira-kira kalau kita ngelakuin A, si kucing bakal mikir apa ya? (walaupun kucing katanya nggak bisa mikir ya ges ya).

     Buku ini juga ngajak kita buat melihat "life-cycle" makhluk hidup, dalam hal ini kucing dan manusia. Misalnya di cerita pertama, kita akan melihat gimana perkembangan kucing yang diadopsi saat bayi, hingga dia menua bersama pemiliknya. Dan juga tentang realita bahwa makhluk hidup akan mati pada waktunya. Di saat ada kelahiran, di situ juga ada kematian.

     Sebagaimana buku-buku Arikawa Hiro yang sebelumnya aku baca, buku ini juga emosional banget (setidaknya buatku). Di sini beneran digambarin, gimana manusia dan kucing itu bisa saling terikat satu sama lain. Dan ketika salah satunya pergi, yang ditinggal bakal ngerasa sedih yang mendalam. Nggak cuma sedih-sedihan sih, tapi ada sisi menggemaskannya, apalagi kita di sini membahas tentang kelakuan kucing.

     Dan lagi, ketika penulis mulai bahas topik-topik serius seperti kematian, masalah keluarga atau penyakit, ada sentuhan sedikit humor yang bikin kita nggak terlalu tegang dengan ceritanya. Jadi bisa bikin mengalir aja pas baca.

     Intinya, kalau kamu adalah pecinta kucing, wajib sih baca ini! Banget, banget banget deh pokoknya. Apalagi kalau suka tipe cerita yang heart-warming, pasti bakal ngerasa tersentuh dengan cerita-ceritanya.

     Demikian Review Buku The Goodbye Cat dari Arikawa Hiro, terima kasih buat yang udah baca!