Jadi beberapa waktu lalu aku baca HBR: The Year in Tech 2026, di mana isi buku ini sebagian besar ngasih insight tentang teknologi apa yg lagi hangat dibicarain akhir-akhir ini. Emang sih makin maju, tapi risiko kekacauannya makin besar kan.
Bingung, ini namanya review atau cuma yapping aja. Intinya, aku ada 2 poin yg menurutku menarik dari buku ini antara lain:
1. Penggunaan agentic AI. Di buku ini ada bahasan tentang gimana kalau kita pakai Agentic AI dalam pekerjaan. Kalau sebelumnya pakai genAI yg kerjaannya semacam chatbot: lu tanya gue jawab, agentic AI lebih maju lagi, di mana AI bisa eksekusi tindakan berdasarkan data-data yang dikasih. Contohnya, mereka bisa negosiasi, bisa nyari kandidat kerja atau bikin rencana liburan yg tiketnya udah dibeliin.
Kelihatannya keren kan? Tapi masalahnya, apakah kita udah semaju itu?
Aku nggak ngomongin tentang negara lain, tapi di negara Indonesia sendiri. Semisal, pemerintah mau nerapin agentic AI nih, apakah dari segi Infrastruktur, SDM dan sosial sudah memadai? Soalnya, kalau levelnya agentic AI, kita harus punya tim SDM teknis yg punya peran jelas dan mumpuni. Jadi nggak akan lempar-lemparan tugas atau rebutan pendapat saat meeting yg menghambat eksekusi.
Lalu yang tak kalah penting, harus punya kemampuan logical reasoning yang kuat, soalnya kan agentic AI ini pasti perintahnya "muter-muter" ya, karna harus eksekusi. Pastiin tim teknis rutin stress test buat nyari celahnya. Selain itu, harus punya payung hukum yang jelas, jadi ketika si agentic AI ini salah ambil keputusan, jelas siapa yang bertanggung jawab, masa mau nyalahin robot? hahahah. Topik hukum (liability) ini lagi topik panas buat kelanjutan AI ini.
2. Di buku ini bahas perkembangan sensor teknologi di bidang kesehatan. Jadi kalau biasanya kita pakai smartwatch buat tracking detak jantung kita, si teknologi upgrade ini bakal menilai langsung ke arah produktivitasnya. Misalnya di perusahaan, tiap pegawai dipasang sensor buat ngecek kesehatan dari detak jantung, suhu atau helaan nafas, baru nanti disimpulkan, "oh fisik orang ini sakit". Nah, hal kayak gini tuh rawan juga penyalahgunaan, perusahaan bisa seenaknya pecat kalau "oh nih orang sering penyakitan, waktunya ganti pegawai".
Tapi ada hal yang paling penting kalau teknologi ini diterapkan: privasi pegawai gimana? Data biologis itu sangat sensitif, pegawai jadi ngerasa diawasi. Kecuali ada penerapan kebijakan data privacy, di mana data Kkesehatan pegawai itu sifatnya anonim dan cuma bisa diakses tenaga medis atau pegawai itu sendiri.
Secara umum, buku ini optimis, tapi yaa tidak memberikan janji kosong belaka kalau teknologi yang berkembang tuh bakal positif terus (skeptis ke arah positif). Intinya, setiap perkembangan teknologi yang makin pesat, pasti efek kekacauannya juga makin besar. Oleh karena itu, mereka fokus ke systems over symptoms, jadi fokuslah pada perbaikan sistem secara menyeluruh, bukan cuma memadamkan gejala (masalah di permukaan) saat terjadi kegagalan. Misalnya:
1. Si AI mulai ambil keputusan anomali (dalam agentic AI), system harus segera ditutup dan kembali ke kendali manusia (makanya SDM di balik layar yg perannya jelas dan kompeten ini wajib ada). Dan segera umumkan ke public kalau ada anomali, jangan nunggu viral dulu karna kerusakannya udah besar.
2. Harus sering stress test, alias cari celah atau kesalahan yang kemungkinan ada di system itu.
3. Tanggung jawab tetap di manusia, biar gimanapun kita nggak bisa salahin algoritma. Jadi kalau emang pekerjaan itu kritis dan emang seharusnya dilakukan manusia, mending cari aman tetep menggunakan manusia sebagai eksekutornya.
Demikian Review Buku (atau lebih tepat disebut yapping) HBR: The Year in Tech 2026. Semoga bermanfaat, terima kasih buat yang sudah baca.



